Sabtu, 16 Rajab 1440 / 23 Maret 2019

Sabtu, 16 Rajab 1440 / 23 Maret 2019

Bolivar tak Laku, Warga Venezuela Pilih Pakai Uang Asing

Jumat 15 Mar 2019 14:51 WIB

Rep: Umi Soliha/ Red: Nur Aini

Lorong di sebuah mal yang hancur setelah dijarah di Maracaibo, Venezuela,Rabu (13/3). Penjarahan dan vandalisme terjadi saat pemadaman besar-besaran.

Lorong di sebuah mal yang hancur setelah dijarah di Maracaibo, Venezuela,Rabu (13/3). Penjarahan dan vandalisme terjadi saat pemadaman besar-besaran.

Foto: AP Photo/Henry Chirinos
Hiperinflasi menghancurkan nilai tukar mata uang bolivar.

REPUBLIKA.CO.ID, SAN ANTONIO -- Di Kota San Antonio del Tachira di dekat perbatasan dengan Kolombia, uang bolivar (mata uang Venezuela) tidak memiliki nilai untuk membeli makanan atau obat-obatan. Masyarakat memilih menggunakan mata uang asing, seperti peso Kolombia atau dolar AS untuk transaksi jual beli.

Baca Juga

Hiperinflasi mencapai 2 juta persen per tahun di Venezuela telah menghancurkan nilai tukar mata uang bolivar. Masyarakat yang tidak memiliki kartu pembayaran elektronik,  menggunakan mata uang asing menjadi satu-satunya cara praktis untuk melakukan transaksi jual beli di negara Amerika Selatan.

Moises Hernandez, salah satu pekerja kebersihan di San Antonio, mengatakan hanya menggunakan mata uang peso Kolombia untuk menyeberang ke perbatasan kota Cucuta dan membeli kebutuhan pokok untuk kebutahan sehari–harinya. “Kita tidak bisa makan kalau tidak membeli kebutahan pokok di sana. Di Venezuela semua barang tidak terjangkau harganya,” kata pria berusia 40 tahun itu kepada Reuters, Jumat (15/3).

Sejak Presiden Venezuela Nicolas Maduro melegalkan penggunaan mata uang asing tahun lalu. Uang asing mempunyai nilai tukar tinggi dan berperan penting di berbagai aspek kehidupan. Di daerah perbatasan dan kota-kota besar, dokter, pedagang, dan bahkan tukang ledeng menggunakan mata uang asing seperti mata uang Kolombia, Brasil, AS, atau Eropa sebagai alat transaksi mereka.

Selama pemadaman listrik di Venezuela minggu ini, beberapa toko roti, restoran, dan apotek yang tetap buka meminta uang tunai karena sistem pembayaran elektronik turun. Itu artinya, mata uang asing sebagai satu –satunya alat tukar di sana.

Di kota barat Maracaibo, kota terbesar kedua di Venezuela , toko-toko yang tetap buka hanya menerima pembayaran dalam dolar AS dengan transaksi 5 dolar ke atas. “Semuanya dijual dalam dolar dan aku takut karena aku tidak tahu di mana aku akan membeli makanan” kata Lila Matheus (50 tahun), seorang ibu rumah tangga di Maracaibo.

Menurut PBB kebanyakan mata uang asing di Venezuela berasl dari lebih dari tiga juta orang telah bermigrasi sejak 2015. Mereka lebih memilih mengadu nasib ke luar negeri meskipun tidak ada teman dan kerabat. Itu mereka lakukan karena upah minum di Venezuela sudah sangat tidak layak. Upah minimun 18 ribu bolivar (Rp 37 juta) setara dengan kurang dari enam dolar AS (Rp 72 ribu).

Menurut perhitungan perusahaan lokal Ecoanalitica, sekeranjang bahan–bahan pokok yang biasanya menelan biaya 100 dolar US setara Rp 143 ribu, semenjak tahun lalu menjadi 675 dolar US setara Rp 91 juta. Sedangkan Berdasarkan pengamatan Reuters, hari pertama pemadaman listrik di Ciracas  mengakibatkan haraga sekarung es naik seharga satu dolar AS setara Rp 14 ribu di Caracas. Bahkan di  Maracaibo satu karung es dihargai enam dolar AS atau setara Rp 85 ribu.

Omaira Rodriguez, seorang pensiunan yang tinggal di daerah kumuh Ciracas mengatakan, setahun lalu ia masih bisa bertahan dari uang yang dikrim keluarganya setiap dua minggu sekali yang tinggal di Kolombia dan Spanyol. Namun, menurutnya kini uang kiriman sudah tidak cukup untuk membeli bahan-bahan pokok bahkan uang pensiunan yang ia dapatkan per bulan hanya cukup membeli sebungkus sabun cuci. "Dengan apa yang keluarga saya kirim sekarang, perlu adanya mukjizat untuk bisa membeli semua kebutuhan pokok dengan hiperinflasi ini," katanya.

Di daerah perbatasan dan di kota-kota besar, banyak bisnis sekarang secara terbuka menetapkan harga dalam mata uang asing, sehingga tidak harus mengubah harga mereka setiap hari. Dekat perbatasan selatan dengan Brasil, hotel, restoran, dan toko mencantumkan harga dalam mata uang Brasil. "Di perbatasan, tidak ada yang menerima bolivar. Apa yang kita alami ini sangatlah sulit," kata Wali Kota kota perbatasan Gran Sabana, Emilio Gonzalez.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA