Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Petinggi Intelejen Qadafi Membelot ke Oposisi

Kamis 25 Aug 2011 09:07 WIB

Red: Stevy Maradona

Warga Libya bersuka cita usai kaum pemberontak berhasil menguasai Tripoli.

Warga Libya bersuka cita usai kaum pemberontak berhasil menguasai Tripoli.

Foto: AP/Alexandre Meneghini

REPUBLIKA.CO.ID, DUBAI-- Orang nomor dua dalam jajaran komando dinas intelijen dan menteri kesehatan Muamar Qaddafi bergabung dengan Dewan Transisi Nasional. Demikian wawancara yang diudarakan oleh stasiun televisi Al Arabiya, Rabu (24/8).

Wakil direktur keamanan luar negeri di dinas intelijen Libya Jenderal Khalifah Mohammed Ali, dan menteri kesehatan Mohammed Hijazi, termasuk di makin banyak pejabat Libya yang beralih pihak sejak gerilyawan oposisi meraih keunggulan dalam perjuangan guna mengakhiri 42 tahun kekuasaan Gaddafi.

"Saya menempatkan diri untuk mengabdi pada negara dan menyeru semua jenderal serta prajurit yang adalah putra Libya untuk bergabung dengan Revolusi 17 Februari," kata Jenderal Ali di dalam wawancara dengan stasiun televisi satelit yang berpusat di Dubai, Uni Emirat Arab itu.


Di dalam satu teks judul berita, Al Arabiya menyatakan jenderal itu telah meninggalkan jabatannya. Di dalam wawancara terpisah Rabu malam, Hijazi mengatakan ia telah berencana meninggalkan Kementerian Kesehatan Gaddafi selama dua bulan. "Tapi saya merasa jiwa saya tidak aman," katanya.

Ditambahkannya, keadaan telah berubah dengan masuknya gerilyawan ke ibu kota Libya, Tripoli. Tapi ia memperingatkan keadaan belum sepenuhnya aman, kendati gerilyawan telah menguasai Tripoli.

"Rejim (Gaddafi) memiliki taktik dan tipu-daya, dan dapat melakukan apa saja. Saya memperingatkan pemberontak agar berhati- hati," kata Hijazi, tanpa memberi perincian.

Tentara pemberontak Libya, Rabu (24/8), juga mengambil alih pangkalan militer Mazraq Ash-Shams di kota pelabuhan Libya, Zuara, sekitar 60 kilometer dari perbatasan Tunisia, demikian laporan stasiun TV yang berpusat di Dubai, Al Arabiya.

Pemimpin Dewan Peralihan Nasional (NTC) Mustafa Abdel Jalil mengatakan kepada stasiun televisi France-24 bahwa sebanyak 600 petempur pro-Gaddafi telah ditangkap tapi pertempuran takkan berakhir sampai pemimpin Libya itu sendiri mendekam di penjara.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA