Minggu, 20 Rabiul Awwal 1441 / 17 November 2019

Minggu, 20 Rabiul Awwal 1441 / 17 November 2019

Usai Meliput, Lima Wartawan Italia Diculik Pasukan Qadafi

Kamis 25 Agu 2011 10:11 WIB

Red: Stevy Maradona

Elisabetta Rosaspina salah satu wartawan yang diculik tentara pro Moammar Qaddafi.

Elisabetta Rosaspina salah satu wartawan yang diculik tentara pro Moammar Qaddafi.

Foto: AP/Lapresse

REPUBLIKA.CO.ID, ROMA-- Para pejuang yang setia kepada Muamar Qaddafi pada Rabu menculik empat wartawan Italia yang melakukan perjalanan dengan mobil di luar Tripoli, kata kementerian luar negeri dan media lokal.

Kelompok wartawan tersebut diculik saat menuju ibu kota dari kota Zawiyah yang berjarak 40 kilometer (25 mil), kata kantor berita ANSA mengutip pernyataan Bruno Tucci dari perhimpunan wartawan yang bermarkas di Roma.

Sekelompok loyalis Gaddafi menghentikan mobil itu, membunuh sopir, dan mencomot para wartawan itu ke sebuah rumah di mana seorang reporter untuk koran Katolik Avvenire diizinkan untuk memanggil editor mereka, untuk menjelaskan apa yang terjadi, kata laporan ANSA.

Dua wartawan lainnya meliput konflik untuk harian Italia, Corriere della Sera, sementara orang keempat menulis untuk La Stampa, menurut laporan itu. Elisabetta Rosaspina dari Corriere della Sera adalah satu-satunya wanita dalam kelompok tersebut, kata Tucci kepada ANSA.

Konsul Italia di Benghazi, Guido De Sanctis, mengatakan kepada ANSA bahwa para wartawan itu ditahan di sebuah rumah di Tripoli tidak jauh dari hotel Rixos, dimana kelompok sebagian besar wartawan asing dibebaskan Rabu sebelumnya setelah ditangkap oleh pengawal pro-Gaddafi.

De Sanctis mengatakan wartawan Avvenire telah diizinkan untuk membuat beberapa pembicaraan telepon dari tahanan, yang digambarkan sebagai "pertanda baik" bagi para sandera.

Beberapa wartawan Italia telah menjadi korban penculikan di masa lalu, terutama di Afghanistan dan Irak. Giuliana Sgrena diculik pada tahun 2005 di Irak sementara fotografer Gabriele Torsello dicomot tahun berikutnya di Afghanistan.

Sebagai mantan penguasa kolonial Libya, Italia menikmati hubungan ekonomi yang kuat dengan Gaddafi dan mitra dagang negara sebelum dimulainya konflik. Italia adalah pemain kunci dalam serangan udara pimpinan NATO selama pemberontakan enam bulan melawan orang kuat, yang memerintah atas Libya selama 42 tahun, Muamar Gaddafi.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA