Jumat 18 Dec 2020 14:40 WIB

Putin: Jika Rusia Ingin Navalny Mati, Misi Pasti Tuntas

Rusia menilai Navalny mendapat dukungan dari agen intelijen AS.

Rep: Dwina Agustin/ Red: Teguh Firmansyah
 Presiden Rusia Vladimir Putin menghadiri konferensi pers tahunannya melalui konferensi video di kediaman negara Novo-Ogaryovo di luar Moskow, Rusia, 17 Desember 2020. Karena pandemi Covid-19, Putin mengadakan konferensi pers tahun ini dalam format jarak jauh.
Foto: EPA-EFE/ALEXEI NIKOLSKY / SPUTNIK / KREMLIN
Presiden Rusia Vladimir Putin menghadiri konferensi pers tahunannya melalui konferensi video di kediaman negara Novo-Ogaryovo di luar Moskow, Rusia, 17 Desember 2020. Karena pandemi Covid-19, Putin mengadakan konferensi pers tahun ini dalam format jarak jauh.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Presiden Rusia, Vladimir Putin, Kamis (17/12), mengklaim bahwa politisi oposisi Alexey Navalny mendapatkan dukungan dari agen Amerika Serikat (AS).  Dia pun menyatakan, agen Rusia ingin membunuhnya, mereka akan melakukan dengan tuntas.

"Tapi itu tidak berarti dia perlu diracuni, siapa yang butuh dia? Jika [mereka] mau, mereka mungkin sudah menghabiskannya," kata Putin.

Baca Juga

Komentar Putin muncul sebagai tanggapan atas pertanyaan pada konferensi pers tahunan menyusul penyelidikan oleh kelompok investigasi Bellingcat dan CNN yang diterbitkan Senin (14/12). Laporan tersebut mengungkap bukti bahwa Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB) membentuk tim elite yang berspesialisasi dalam agen saraf dan membuntuti Navalny selama bertahun-tahun.

Seperti dikutip dari CNN, Putin secara tidak langsung mengonfirmasi bahwa agen FSB memang mengikuti Navalny. Dia mengklaim tanpa bukti bahwa Navalny didukung oleh badan intelijen AS. Alasan itu yang digunakannya menyatakan kelayakan FBS untuk mengintainya. "Jika itu benar, maka itu menarik, maka tentu saja layanan khusus [kami] perlu mengawasinya," ujarnya.

Navalny diracun dengan racun Novichok pada Agustus dan hampir mati. Setelah perawatan awal di Omsk, Siberia, dia dibawa ke sebuah klinik di Berlin. Kremlin telah berulang kali membantah terlibat dalam kasus keracunannya.

Menurut Putin, Navalny akan mati jika memang FBS telah bergerak untuk meracuninya. "Tapi dalam kasus ini, istrinya meminta saya, dan saya segera memberi perintah agar dia keluar negeri untuk dirawat di Jerman ... Ini tipuan untuk menyerang para pemimpin [di Rusia]," kata Putin.

Putin menggambarkan laporan tentang Navalny yang namanya tidak disebut oleh presiden Rusia ini, sebagai kisah yang ditanamkan. "Sebenarnya tidak ada yang mengejutkan tentang fakta bahwa kisah-kisah yang ditanamkan ini terjadi. Mereka selalu dan akan selalu begitu," katanya.

Menyusul konferensi pers Putin, Departemen Luar Negeri AS meminta tanggung jawab atas peracunan tokoh oposisi Rusia. Washington pun menuduh Rusia terlibat dalam kampanye disinformasi yang tidak tahu malu untuk mengalihkan kesalahan atas kejahatan tersebut.

"Rusia hanya memberikan teori alternatif imajinatif liar dalam upaya untuk menabur keraguan. Tujuan mereka adalah membuat orang bertanya-tanya apakah mungkin ada penjelasan masuk akal lain untuk keracunan Navalny dengan agen saraf Novichok," kata juru bicara Departemen Luar Negeri kepada

Juru bicara itu mencatat bahwa Rusia memiliki catatan dalam menargetkan tokoh oposisi dan pembangkang dengan agen kimia di masa lalu, termasuk Skripals di Inggris pada 2018. "Secara umum, AS terganggu oleh upaya otoritas Rusia untuk menindak oposisi politik," kata mereka. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement