Selasa 14 Feb 2023 20:41 WIB

PBB Sambut Keputusan Suriah Buka Dua Pos Penyeberangan untuk Aliran Bantuan

Sebelumnya, Suriah hanya membuka satu pos penyeberangan, yakni Bab al-Hawa.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Esthi Maharani
 Orang-orang mencoba mengidentifikasi jenazah korban gempa di luar rumah sakit, di Aleppo, Suriah, Senin (6/2/2023). Gempa kuat mengguncang wilayah luas Turki dan negara tetangga Suriah pada Senin, merobohkan ratusan bangunan serta menewaskan dan melukai ribuan orang. orang.
Foto: AP Photo/Omar Sanadiki
Orang-orang mencoba mengidentifikasi jenazah korban gempa di luar rumah sakit, di Aleppo, Suriah, Senin (6/2/2023). Gempa kuat mengguncang wilayah luas Turki dan negara tetangga Suriah pada Senin, merobohkan ratusan bangunan serta menewaskan dan melukai ribuan orang. orang.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyambut keputusan Pemerintah Suriah membuka dua titik penyeberangan baru di perbatasan Turki untuk keperluan pengiriman bantuan kemanusiaan bagi korban gempa di negara yang sudah 12 tahun dibekap konflik sipil tersebut. Sebelumnya, Suriah hanya membuka satu pos penyeberangan, yakni Bab al-Hawa.

“Saya menyambut keputusan hari ini oleh Presiden Suriah Bashar al-Assad untuk membuka dua titik penyeberangan Bab Al-Salam dan Al Ra’ee dari Turki ke Suriah barat laut untuk periode awal tiga bulan guna memungkinkan pengiriman bantuan kemanusiaan yang tepat waktu,” kata Guterres, Senin (13/2/2023), dikutip laman UN News.

Menurut Guterres, penyaluran bantuan kemanusiaan bagi korban gempa di Suriah bersifat sangat mendesak. “Membuka titik-titik penyeberangan ini, bersama dengan memfasilitasi akses kemanusiaan, mempercepat persetujuan visa dan memudahkan perjalanan antar-hub,” ucapnya.

Kantor PBB untuk Urusan Kemanusiaan (OCHA) mengatakan, Harim, Afrin, dan Jebel Saman menjadi distrik yang paling parah terdampak gempa di Suriah. Sejauh ini, lebih dari 50 truk berisi bantuan kemanusiaan dari lima badan PBB telah melintasi satu-satunya penyeberangan internasional di Bab al-Hawa.

Juru bicara Antonio Guterres, Stephane Dujarric mengatakan, PBB terus memobilisasi tim darurat dan operasi bantuan. Dia menjelaskan, atas permintaan Turki, tim dari UN Disaster Assessment and Coordination (UNDAC) beranggotakan 50 orang telah diterjunkan ke daerah pusat gempa Turki, yakni Gaziantep dan tiga wilayah terdampak lainnya. Mereka akan mendukung pekerjaan the International Urban Search and Rescue Operations.

Tim penghubung UNDAC untuk Kementerian Manajemen Bencana dan Darurat Turki, yang memimpin respons, juga telah dibentuk di Ankara. “Kami melihat area kerusakan seluas lebih dari 50 ribu  kilometer persegi, mencakup rentang sepuluh provinsi. Kami menghitung sekarang, 6.000 gedung bertingkat tinggi telah runtuh,” ujar perwakilan UNDAC, Winston Chang.

Hingga berita ini ditulis, Turki telah melaporkan 31.974 korban tewas akibat gempa. Sementara Suriah mencatatkan sedikitnya 5.800 kematian. Jumlah korban jiwa diprediksi masih akan terus bertambah.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement