Senin 20 Feb 2023 17:46 WIB

AS Bakal Jatuhkan Sanksi Baru ke Rusia

Sanksi baru ini bakal menargetkan industri-industri utama Rusia.

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nidia Zuraya
Bendera Rusia dan Amerika Serikat. Pemerintah Amerika Serikat (AS) berencana untuk memberlakukan sanksi baru terhadap Rusia. Sanksi baru ini menargetkan industri-industri utama Rusia.
Foto: Euromaidan Press
Bendera Rusia dan Amerika Serikat. Pemerintah Amerika Serikat (AS) berencana untuk memberlakukan sanksi baru terhadap Rusia. Sanksi baru ini menargetkan industri-industri utama Rusia.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Pemerintah Amerika Serikat (AS) berencana untuk memberlakukan sanksi baru terhadap Rusia. Bloomberg melaporkan, sanksi baru ini menargetkan industri-industri utama Rusia.

"Sanksi baru akan menargetkan sektor pertahanan dan energi Rusia, lembaga keuangan dan beberapa individu," kata laporan Bloomberg.

Baca Juga

AS dan sekutunya juga dapat mempertimbangkan untuk mencegah penghindaran dan pengelakan sanksi untuk mengganggu dukungan yang diterima Rusia dari negara ketiga.  Seorang juru bicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih menolak berkomentar mengenai rencana sanksi itu ketika dihubungi oleh Reuters.

Awal bulan ini, Amerika Serikat mengeluarkan sanksi baru terhadap Rusia atas aktivitas dunia maya yang menargetkan tujuh orang, termasuk enam orang Rusia dan satu orang Ukraina. Setelah itu Rusia memberi sanksi kepada 77 warga AS sebagai tindakan pembalasan.

Pekan lalu, Uni Eropa menggelar pertemuan untuk membahas serangkaian sanksi baru terhadap Rusia. Sanksi baru ini dapat menelan kerugian 11 miliar euro dalam perdagangan Rusia.

Uni Eropa akan menyepakati sanksi ke-10 untuk menandai peringatan satu tahun invasi Rusia ke Ukraina pada 24 Februari. Tetapi paket sanksi itu harus memenangkan dukungan bulat dari semua negara anggota Uni Eropa.

"Kami melemahkan kemampuan Rusia untuk mempertahankan mesin perangnya. Kami telah mengadopsi sembilan paket sanksi, ekonomi Rusia menyusut. Kita perlu terus menekan," kata Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen kepada Parlemen Eropa.

Von der Leyen mengatakan, paket sanksi ke-10 akan menimbulkan kerugian besar bagi Rusia. Dalam paket sanksi itu, Uni Eropa menargetkan pembatasan pada beberapa penggunaan ganda dan komponen elektronik yang digunakan dalam sistem bersenjata Rusia seperti drone, rudal, dan helikopter. Paket sanksi terbaru ini dapat menargetkan Iran karena membantu perang Rusia.

“Ada juga ratusan drone yang diproduksi di Iran, digunakan oleh Rusia, di medan perang di Ukraina. Drone Iran ini membunuh warga sipil Ukraina, jadi untuk pertama kalinya kami juga menyarankan sanksi yang menargetkan operator ekonomi Iran termasuk yang terkait dengan Garda Revolusi Iran," ujar von der Leyen.

Komisi Eropa telah mengusulkan agar negara-negara Uni Eropa memutus empat lagi bank Rusia dari sistem SWIFT, termasuk bank swasta Alfa-Bank, bank online Tinkoff, dan pemberi pinjaman komersial Rosbank. Selain itu, karet dan aspal akan ditambahkan ke daftar larangan impor Uni Eropa dari Rusia. Uni Eropa juga akan melarang layanan siaran televisi bahasa Arab Russia Today dari wilayahnya.

Larangan lebih lanjut atas ekspor Uni Eropa ke Rusia dimaksudkan untuk menahan kemampuan Moskow memproduksi senjata dan peralatan yang dikerahkan melawan Ukraina. Seorang sumber yang mengetahui tentang paket sanksi  tersebut mengatakan, sanksi dalam paket ke-10 mencakup larangan ekspor sirkuit dan komponen elektronik, kamera termal, radio dan kendaraan berat, serta baja dan aluminium yang digunakan dalam konstruksi dan mesin yang melayani keperluan industri dan konstruksi Rusia.

Komisi Eropa juga mengusulkan pembatasan lebih lanjut pada usaha patungan Eropa dengan Rusia, termasuk warga negara Rusia yang duduk di dewan di Eropa. Uni Eropa bertujuan untuk memperluas tindakannya terhadap Rusia dan menutup celah dalam sanksi yang ada, termasuk kontrol lebih ketat pada penjualan data satelit ke Cina. Penjualan ini berisiko diteruskan ke Rusia.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement