Senin 26 Jun 2023 20:48 WIB

Lembaga PBB Peringatkan Dampak Bubarnya Kesepakatan Gandum Laut Hitam Pada Tanduk Afrika

Puluhan juta orang di kawasan Tanduk Afrika terancam kelaparan.

Rep: Lintar Satria/ Red: Nidia Zuraya
Perjanjian Koridor Gandum Laut Hitam yang disepakati Rusia-Ukraina.
Foto: Tim Infografis Republika.co.id
Perjanjian Koridor Gandum Laut Hitam yang disepakati Rusia-Ukraina.

REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA -- Pejabat Senior Kedaruratan Program Pangan Dunia (WFP) Dominique Ferretti mengatakan berakhirnya kesepakatan gandum di Laut Hitam akan berdampak buruk pada masyarakat kawasan Tanduk Afrika. Ia memperingatkan puluhan juta orang terancam kelaparan.

Moskow mengancam akan keluar dari kesepakatan yang dikenal Inisiatif Gandum Laut Hitam yang ditengahi PBB dan Turki tahun lalu, bila halangan untuk pengiriman gandum dan pupuknya tidak segera disingkirkan. Perwakilan Ukraina mengatakan ia yakin 99,9 persen Rusia akan keluar ketika tenggat kesepakatan itu berakhir pada 18 Juli mendatang.

Baca Juga

Tahun ini kelaparan di di Tanduk Afrika dapat dihindari karena musim hujan yang diperkirakan kering untuk kelima kalinya berturut-turut mematahkan prediksi. Namun lembaga kemanusian PBB mengatakan sekitar 60 juta orang di tujuh negara Afrika masih mengalami kerentanan pangan dan dikhawatirkan bubarnya kesepakatan gandum berdampak buruk bagi kawasan.  

"Tidak diperpanjangnya inisiatif Laut Hitam jelas akan memukul sangat, sangat keras Afrika bagian timur, terdapat sejumlah negara yang tergantung pada gandum Ukraina dan tanpanya harga pangan akan naik signifikan," kata Ferretti, Senin (26/6/2023).

Ferretti mengatakan WFP akan berusaha memasok sebanyak mungkin pangan dan terpaksa mencari pemasok baru bila kesepakatan gandum gagal. Brenda Lazarus dari Organisasi Pertanian dan Pangan mengatakan pola makan di Somalia, Sudan Djibouti dan Eritrea fokus pada gandum dan perubahan akan berjalan "sangat lambat."

PBB mencatat sejak kesepakatan Laut Hitam sudah sekitar 700 ribu ton gandum dikirimkan ke Kenya dan Ethiopia. Walaupun hanya mencakup 2 persen dari total volumenya, tapi kawasan terpukul keras kenaikan harga gandum yang disebabkan invasi Rusia ke Ukraina. Meski harga gandum mulai turun.

Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan sekitar 10,4 juta anak-anak di Somalia, Sudan Selatan dan sebagian Kenya menghadapi malnutrisi akut dan dilaporkan sering masuk rumah sakit dalam tiga tahun terakhir.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement