Senin 07 Aug 2023 13:02 WIB

Pengalihan Air Banjir ke Permukiman Picu Kemarahan Warga Cina

Berdasarkan UU, ketika sungai meluap maka air dialirkan ke area simpanan banjir

Rep: Lintar Satria/ Red: Esthi Maharani
Tim penyelamat menggunakan perahu karet mengevakuasi warga yang terjebak melalui banjir di Zhuozhou di provinsi Hebei, China utara, selatan Beijing, Rabu, 2 Agustus 2023.
Foto: AP Photo/Andy Wong
Tim penyelamat menggunakan perahu karet mengevakuasi warga yang terjebak melalui banjir di Zhuozhou di provinsi Hebei, China utara, selatan Beijing, Rabu, 2 Agustus 2023.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Hampir satu juta warga Provinsi Hebei, Cina, direlokasi setelah hujan deras memaksa pihak berwenang mengalirkan air dari sungai yang meluap ke sejumlah daerah permukiman untuk disimpan. Langkah ini memicu warganet geram karena rumah mereka dikorbankan untuk menyelamatkan Beijing.

Sungai Hai mencakup daerah seluas Polandia yang mencakup Hebei, Beijing dan Tianjin. Lebih dari satu pekan dari akhir Juli lalu daerah yang dihuni sekitar 110 juta orang itu dilanda banjir terburuk sejak enam dekade. Di Hebei, terutama Prefektur Boading menjadi daerah yang paling terdampak.

Baca Juga

Berdasarkan undang-undang pengendalian banjir, ketika banjir sungai menyebabkan waduk yang merupakan pertahanan pertama melebihi kapasitasnya, air untuk sementara dapat dialirkan ke "area simpanan banjir", termasuk daerah dengan populasi rendah.

Pada 31 Juli lalu, Provinsi Hebei membuka tujuh dari 13 daerah yang ditetapkan sebagai area simpanan banjir termasuk Kota Zhuozhou di Bouding, selatan Beijing dan utara Xiongan. Zona yang ingin Presiden Xi Jinping bangun menjadi kekuatan ekonomi untuk Hebei, Beijing, dan Tianjin.

Media pemerintah melaporkan pada 1 Agustus Sekretaris Partai Komunis Hebei Ni Yuefeng meminta kerja pencegahan banjir menjadi prioritas utama. Dalam kunjungannya ke area simpanan banjir di Baoding, Ni menambahkan tekanan terhadap pengendalian banjir di Beijing perlu dikurangi dan perlu dibangun "parit" untuk ibukota.

"Beijing seharusnya membayar tagihannya," tulis seorang warga di media sosial Weibo.

Di unggahan yang lain di Zhuozhou, seorang warga mengatakan masyarakat tidak tahu mereka tinggal di area simpanan banjir dan hak-hak dasar minoritas dikorbankan.

"Saya ingin tahu, diantara masyarakat yang tinggal di area simpanan banjir di seluruh negeri, berapa banyak yang tahu mereka tinggal di area seperti itu," kata seorang warga.

Permintaan komentar ke pemerintah Provinsi Hebei belum mendapat tanggapan. Pemerintah Baoding mengatakan, hujan deras yang tembus rekor meluapkan 67 dari 83 waduk kecil. Air di 10 waduk besar juga mulai ke tingkat berbahaya.

"Ketika banjir terlalu besar dan melebih kapasitas pertahanan tanggul, maka tidak terelakan diperlukan pengendalian banjir dengan menggunakan area simpanan banjir," kata pejabat dari China Water Resources News di Weibo pada 1 Agustus lalu.

"Ini juga untuk melindungi seluruh situasi, anda harus mengorbankan satu bagian untuk bagian yang lebih besar," katanya.

Media pemerintah melaporkan Jumat (4/8/2023) pagi Hebei merelokasi lebih dari 1,54 juta orang. Termasuk 961.200 orang di area simpanan banjir.

"(Warga di area simpanan banjir) harus merelakan rumah mereka untuk melindungi semua orang," kata Kementerian Sumber Daya Air Cina.

Kementerian menambahkan masyarakat akan mendapatkan kompensasi sesuai aturan hukum. Pada Sabtu (5/8/2023) lalu pemerintah Kota Bazhou yang merupakan bagian dari Provinsi Hebei mengungkapkan "terima kasih mendalam" pada warga yang mengikuti perintah dan melakukan evakuasi di waktu yang tepat.

Pemerintah kota mengatakan peninjauan untuk kompensasi kerusakan produksi pertanian dan perumahan akan dilakukan ketika banjir surut. Namun, tidak semua warga berhasil diyakinkan.

Sebuah video yang diunggah di X yang sebelumnya dikenal Twitter, memperlihatkan warga membentangkan spanduk di depan pintu masuk kantor pemerintah kota Bazhou.

"Mengambil rumah saya merupakan tujuan yang jelas demi debit air banjir, tapi anda mengatakannya karena hujan," tulis spanduk tersebut.

Video itu belum dapat diverifikasi secara mandiri.

"Satu bagian kecil masyarakat masih besar, dan pengorbanan mereka telah sangat besar," tulis salah seorang warga di Weibo.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement