Jumat 03 Nov 2023 02:07 WIB

Warga Gaza Lari dari Kematian Hanya untuk Menemukan Kematian

Israel telah membunuh lebih dari 3.600 anak-anak Palestina

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Esthi Maharani
Seorang pria Palestina menggendong seorang anak yang terluka di rumah sakit Najjar menyusul serangan udara Israel terhadap sebuah rumah di Rafah, di Jalur Gaza selatan pada Senin (30/10/2023).
Foto: SAID KHATIB / AFP
Seorang pria Palestina menggendong seorang anak yang terluka di rumah sakit Najjar menyusul serangan udara Israel terhadap sebuah rumah di Rafah, di Jalur Gaza selatan pada Senin (30/10/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA --  Israel telah membunuh lebih dari 3.600 anak-anak Palestina dalam perang yang telah berlangsung selama 25 hari. Anak-anak tak berdosa itu terkena serangan udara, dihantam oleh roket, bahkan terbakar oleh ledakan dan tertimpa bangunan.

Di antara anak-anak yang meregang nyawa adalah bayi baru lahir dan balita. Hampir setengah dari 2,3 juta penduduk di Gaza berusia di bawah 18 tahun, dan 40 persen dari mereka yang tewas dalam perang. Analisis Associated Press terhadap data Kementerian Kesehatan Gaza yang dirilis pekan lalu menunjukkan, pada 26 Oktober, 2.001 anak berusia 12 tahun ke bawah telah gugur, termasuk 615 anak berusia 3 tahun ke bawah.

Baca Juga

“Ketika rumah-rumah hancur, mereka roboh menimpa kepala anak-anak,” kata penulis Adam al-Madhoun pada Rabu (1/11/2023) ketika dia menghibur putrinya yang berusia 4 tahun, Kenzi, di Rumah Sakit Syuhada Al Aqsa di Kota Deir al-Balah, Gaza tengah. Kenzi selamat dari serangan udara. Namun dia mengalami sejumlah luka, yaitu robek di lengan kanan, serta kaki kirinya retak dan patah.

Save the Children mengatakan, jumlah anak-anak yang terbunuh dalam kurun waktu tiga minggu di Gaza sangat tinggi, dibandingkan kematian anak-anak dari total konflik yang terjadi di seluruh dunia dalam tiga tahun terakhir. Save the Children mengatakan, 2.985 anak-anak terbunuh di dua lusin zona perang sepanjang tahun lalu.

“Gaza telah menjadi kuburan bagi ribuan anak,” kata James Elder, juru bicara UNICEF.

Gambar dan video anak-anak yang terguncang saat ditarik dari reruntuhan di Gaza atau terkapar di rumah sakit yang penuh sesak telah menjadi pemandangan yang biasa. Media sosial dibanjiri oleh foto dan video orang tua mendekap anak mereka yang sudah tidak bernyawa.

“Menjadi orang tua di Gaza adalah sebuah kutukan,” kata Ahmed Modawikh, seorang tukang kayu berusia 40 tahun dari Kota Gaza yang hidupnya hancur oleh kematian putrinya yang berusia 8 tahun selama pertempuran lima hari pada Mei.

Ketika pesawat tempur Israel menggempur Gaza, anak-anak Palestina sedang berkumpul dengan keluarga besar di apartemen atau tempat penampungan yang dikelola PBB. Israel telah mendesak warga Palestina untuk meninggalkan Gaza utara menuju Gaza selatan. Namun Israel tetap menjatuhkan bomnya di Gaza selatan. Tidak ada lokasi yang aman dari serangan Israel di Gaza

“Orang-orang lari dari kematian hanya untuk menemukan kematian,” kata Yasmine Jouda.

Jouda kehilangan 68 anggota keluarganya dalam serangan udara 22 Oktober yang menghancurkan dua bangunan berlantai empat di Deir al-Balah. Satu-satunya orang yang selamat dari serangan tersebut adalah keponakan perempuan Jouda, Milissa, yang ibunya sedang melahirkan saat serangan terjadi dan ditemukan tewas di bawah reruntuhan. Kepala bayi kembarnya yang tak bernyawa muncul dari jalan lahirnya.

“Apa yang dilakukan bayi mungil ini hingga ia layak hidup tanpa keluarga?" kata Jouda.

Serangan Israel tak pandang bulu....

 

sumber : AP
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement