Senin 01 Apr 2024 10:09 WIB

Ukraina: Tuntutan Rusia Serahkan Pelaku Serangan Teror Hanya Angin Lalu

ISIS mengklaim bertanggung jawab atas serangan di Moskow.

Rep: Lintar Satria/ Red: Setyanavidita livicansera
foto yang diambil dari video yang dirilis Komite Investigasi Rusia  tersangka penembakan Balai Kota Crocus pada hari Jumat, berdiri di dalam markas Komite Investigasi Rusia di Moskow, Rusia. Ahad (24/3/2024).
Foto: AP
foto yang diambil dari video yang dirilis Komite Investigasi Rusia tersangka penembakan Balai Kota Crocus pada hari Jumat, berdiri di dalam markas Komite Investigasi Rusia di Moskow, Rusia. Ahad (24/3/2024).

REPUBLIKA.CO.ID, KIEV -- Badan keamanan Ukraina, SBU menolak permintaan "tidak berguna" Rusia untuk menyerahkan individu yang dituduh memiliki hubungan dengan terorisme. SBU mengatakan, Moskow "lupa" pemimpin Kremlin Vladimir Putin merupakan subjek dari surat penangkapan internasional.

"Pernyataan mengenai terorisme dari negara teroris itu sendiri terdengar sinis, karena itu setiap kata dari Kementerian Luar Negeri Rusia tidak ada gunanya," kata SBU dalam pernyataan, Ahad (31/3/2024). Sebelumnya Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan mereka meminta Ukraina menyerahkan semua orang yang diduga memiliki koneksi dengan aksi terorisme di Rusia. Termasuk, kepala badan keamanan SBU.  

Baca Juga

Dalam pernyataan itu kementerian mencantumkan daftar insiden kekerasan yang terjadi di Rusia sejak pasukan Kremlin menginvasi Ukraina pada Februari 2022 lalu. Termasuk pengeboman yang menewaskan putri seorang blogger perang terkenal dan insiden lain yang melukai seorang penulis.

Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan hasil penyelidikan menunjukkan jejak insiden-insiden 'kejahatan ini mengarah pada Ukraina.' "Rusia menyerahkan permintaan pada pihak berwenang Ukraina untuk segera menangkap dan mengekstradisi semua orang yang memiliki koneksi dengan aksi-aksi teroris tersebut," kata kementerian dalam pernyataannya.

Kementerian Luar Negeri Rusia meminta Ukraina menyerahkan kepala SBU Vasyl Maliuk, yang mengakui ia berada di balik serangan-serangan di jembatan yang menghubungkan Crimea dengan wilayah Rusia sejak invasi Kremlin ke Ukraina pada Februari 2020 lalu. Rusia merebut Crimea pada tahun 2014 lalu, jembatan itu dibangun setelah aneksasi.

"Pihak Rusia menuntut rezim Kiev segera melepaskan semua dukungan pada aktivitas teroris, mengekstradisi pihak-pihak bersalah dan mengkompensasi kerugian para korban," kata kementerian.  

"Pelanggaran Ukraina pada kewajiban di bawah konvensi anti-terorisme akan mengakibatkan mereka dimintai pertanggungjawaban dalam ketentuan hukum internasional,” tambah kementerian.

Pernyataan Kementerian Luar Negeri Rusia merujuk pada penembakan massal di gedung konser dekat Moskow yang menewaskan 144 orang namun dalam arti yang tidak jelas. ISIS mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut dan AS mengatakan intelijennya mengungkapkan serangan tersebut digelar kelompok ISIS cabang Afghanistan atau ISIS Khorasan atau ISIS-K.

Pekan lalu, penyidik Rusia mengatakan mereka memiliki bukti pelaku penembakan di gedung konser memiliki hubungan dengan "nasionalis Ukraina." Kiev membantah terlibat dalam serangan tersebut.

Kantor berita Rusia mengutip kepala Komite Investigasi Rusia, badan penyelidikan terpenting di Rusia, Alexander Bastrykin mengatakan ia sedang menyelidiki siapa dalang serangan di gedung konser. 

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement