Senin , 18 September 2017, 02:16 WIB

"Keamanan Pengungsi Rohingya di Bangladesh Mengkhawatirkan"

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Endro Yuwanto
Abir Abdullah/EPA
Anak pengungsi Rohingya memasak makanan di Tangkhali -Ukhiya, Bangladesh
Anak pengungsi Rohingya memasak makanan di Tangkhali -Ukhiya, Bangladesh

REPUBLIKA.CO.ID,  COX'S BAZAR -- Para pengungsi Rohingya di Bangladesh masih rawan keamanannya. Sejumlah lembaga kemanusiaan menegaskan, ratusan ribu etnis tanpa kewarganegaraan itu berada dalam bayang-bayang kematian akibat kurangnya pasokan makanan, tempat berteduh, dan air bersih.

Sekitar 410 ribu orang Rohingya menyelamatkan diri dari serbuan militer Myanmar ke negeri tetangga, Bangladesh, sejak awal September 2017 ini. PBB telah menegaskan terjadinya genosida atas etnis Rohingya dan mendesak pertanggungjawaban pihak Myanmar.

"Banyak orang (Rohingya) yang sampai ke sini dalam keadaan kelaparan akut. Mereka tanpa makanan dan air bersih sama sekali," kata Direktur Lembaga Save the Children untuk Bangladesh Mark Pierce kepada Reuters, Ahad (17/9). "Saya benar-benar khawatir tentang kebutuhan pangan, tempat tinggal, dan air bersih untuk mereka. Kalau kebutuhan mendasar ini tak terpenuhi, maka keadaan akan lebih buruk lagi. Nyawa mereka terancam."

Bangladesh selama puluhan tahun terakhir kerap dimasuki arus pengungsi Rohingya. Pemerintah Myanmar menuding etnis ini sebagai orang asing yang hijrah dari Bangladesh bertahun-tahun lampau sehingga menolak memberikan status kewarganegaraan.

Sejak 25 Agustus 2017, krisis terbaru berlangsung atas Rohingya dan telah menelan belasan nyawa etnis tersebut. Banyak negara, termasuk Indonesia, yang mengecam keras negara berpenduduk mayoritas Buddha ini.

Sejumlah lembaga HAM dunia menilai krisis kemanusiaan telah dan sedang terjadi di Rakhine, negara-bagian tempat tinggal etnis Rohingya di Myanmar. Namun, otoritas Myanmar menuding adanya gerakan terorisme di Rakhine sebagai penyebab krisis ini.

Sampai kini, jumlah pengungsi Rohingya di Bangladesh diperkirakan mencapai 400 ribu jiwa.

Pierce menegaskan perlunya peningkatan daya dan kuantitas bantuan kemanusiaan bagi kaum Muslim minoritas tersebut. "Masalah ini hanya bisa teratasi dengan penggalangan kekuatan komunitas internasional," jelasnya.

Berita Terkait