Selasa , 14 November 2017, 18:07 WIB

Presiden Jokowi Ajak Asia Timur Jaga Budaya

Red: Teguh Firmansyah
EPA/Made Nagi
Presiden Joko Widodo
Presiden Joko Widodo

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Joko Widodo mengajak para kepala negara dari kawasan Asia Timur untuk selalu menjaga budaya khususnya dalam dialog dan kerja sama yang baik.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-12 Asia Timur di Philippine International Convention Center (PICC), Manila, Filipina, Selasa (14/11)', menekankan bagi negara-negara di kawasan untuk bekerja sama agar keterbukaan ekonomi dapat dijaga dan inklusifitas tetap diperhatikan serta membawa manfaat bagi semua negara.

"Kita harus terus menjaga agar budaya dialog terus menjadi budaya negara anggota KTT Asia Timur, utamanya 'collective leadership' kita dalam penyelesaian secara damai yang diperlukan dunia," kata Presiden Jokowi sebagaimana disampaikan tertulis oleh Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin.

Terlebih pada era ketika prospek ekonomi dilaporkan Bank Dunia dan IMF akan terus membaik pada 2018. Meski masih terdapat sejumlah hal yang dapat menganggu pertumbuhan ekonomi dunia, seperti proteksionisme dan instabilitas politik dunia.

Bahkan gejala proteksionisme baik berupa hambatan tarif maupun non tarif juga diperkirakan semakin meningkat.
"Penerapan semangat akan mempersempit jurang pembangunan antarnegara," katanya.

Selain itu, menurut Presiden Jokowi instabilitas politik juga dinilai akan menghambat pertumbuhan ekonomi dunia.
"Konflik dan perang kejahatan lintas batas dapat mendorong instabilitas politik dunia," kata Presiden Jokowi.

Dalam konteks inilah peran penting ASEAN dan Asia Timur diperlukan. Isu terorisme juga tak lepas dari pembicaraan dalam forum tersebut.

Presiden Jokowi kemudian mengingatkan walaupun Kota Marawi misalnya sudah dibebaskan dari kependudukan teroris, namun ancaman terorisme masih belum akan menurun. "Kerja sama regional dan internasional harus terus ditingkatkan dengan menggunakan pendekatan hard power dan juga soft power, termasuk dalam mengatasi pendanaan terhadap terorisme," ucap Presiden Jokowi.

Presiden Jokowi menegaskan agar counter narasi yang mengedepankan nilai toleransi juga diperkuat

Sumber : Antara