Jumat , 17 November 2017, 00:13 WIB

Mugabe Enggan Serahkan Kursi Presiden

Rep: Rizkyan Adiyudha/ Red: Ani Nursalikah
AP Photo/Tsvangirayi Mukwazhi
Presiden Zimbabwe Robert Mugabe dan Ibu Negara Grace Mugabe.
Presiden Zimbabwe Robert Mugabe dan Ibu Negara Grace Mugabe.

REPUBLIKA.CO.ID, HARARE -- Presiden Zimbabwe Robert Mugabe bersikeras dirinya merupakan satu-satunya pemimpin yang sah secara hukum. Dirinya enggan meyerahkan kursi pemerintahan kepada militer.

Permintaan penyerahaan kekuasaan itu dimediasi oleh seorang pastor bernama Fidelis Mukonori. Pemuka agama tersebut menengahi permintaan penyerahan kekuasaan oleh jenderal militer, Kamis (16/11).
 
Meski demikian, tidak diketahui lebih lanjut negosiasi antara Fidelis Mukonori dan Mugabe. Kendati dari keterangan seorang sumber, perundingan dilakukan agar transisi pemerintahan berjalan mulus tanpa ada pertumpahan darah.
 
Militer Zimbabwe mengatakan saat ini Mugabe menjadi tahanan rumah di ibu kota negara, Harare. Melalui Mukonori, presiden berusia 93 tahun itu dipersilakan keluar usai operasi militer yang dilakukan pada Rabu (15/11).
 
Robert Mugabe masih dipandang sebagai pahlawan pembebasan bagi banyak warga Afrika. Mantan Wakil Presiden Zimbabwe Emmerson Mnangagwa dipecat pekan lalu.
 
Mnangagwa dipercaya memiliki visi bersama militer dan oposisi untuk menggulingkan Mugabe selama lebih dari satu tahun. Hal tersebut terlihat dari kembalinya pemimpin posisi Morgan Tsvangirai dari perawatan kanker di Inggris.
 
Seperti diketahui, militer Zimbabwe menguasai TV negara dan memblokir akses ke kantor pemerintah di Harare. Dalam sebuah pidato di televisi, juru bicara militer Mayor Jenderal SB Moyo mengatakan, tentara berusaha menenangkan situasi degenerasi, sosial dan ekonomi di negara tersebut.
 
Moyo membantah tentara melakukan kudeta terhadap pemerintahan Presiden Robert Mugabe dan mengatakan pemimpin dan keluarganya dalam keadaan baik-baik saja dan keamanan mereka terjamin.
 
Dia mengatakan begitu tujuannya tercapai, situasi di negara tersebut akan kembali normal. Ia pun meminta warga Zimbabwe untuk melanjutkan kehidupan mereka seperti biasa.
 
 
Sumber : Reuters

Berita Terkait