Monday, 7 Sya'ban 1439 / 23 April 2018

Monday, 7 Sya'ban 1439 / 23 April 2018

Rusia Minta AS 'Angkat Kaki' dari Suriah

Sabtu 16 December 2017 17:24 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Teguh Firmansyah

Suasana kota di Suriah yang hancur akibat perang saudara yang melanda negara tersebut.

Suasana kota di Suriah yang hancur akibat perang saudara yang melanda negara tersebut.

Foto: EPA/STR

REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA -- Perwakilan permanen Rusia untuk kantor PBB di Jenewa Alexei Borodavkin menilai kehadiran koalisi militer pimpinan Amerika Serikat (AS) di Suriah tidak dibutuhkan lagi. Sebab menurutnya, kelompok milisi di negara tersebut telah berhasil dikalahkan.

"Kami percaya  setelah kemenangan atas milisi ISIS, tidak ada kebutuhan lagi bagi koalisi pimpinan AS untuk tetap tinggal di Suriah, terutama karena mereka tidak diundang ke sana. Jadi kami meminta orang Amerika untuk mengemasi ransel mereka dan pergi," ujar Borodavkin, dilaporkan laman kantor berita Rusia TASS, Jumat (15/12).

Menurut Borodavkin terdapat pemahaman yang strategis dan luas antara Rusia dan AS terkait krisis Suriah. Namun tak jarang pula terdapat beberapa pokok yang saling dipertentangkan kedua negara. "Tapi kami berharap dapat mempertahankan interaksi dan kerja sama politik dan militerdengan AS," ucapnya.

Sebelumnya, Presiden Rusia VladimirPutin telah memerintahkan agar pasukan Rusia yang berada di Suriah untuk pulangke negaranya. Menurut Putin, kehadiran militer Rusia sudah tak dibutuhkan mengingat berhasil ditumpasnya kelompok milisi dan pemberontak di negaratersebut.

Kendati demikian, Putin mengatakan akan tetap mempertahankan pangkalan militernya di Suriah. Hal ini dilakukan guna mengantisipasi bila kelompok milisi dan pemberontak bangkit melakukan perlawanan kembali.

"Jika ancaman teror serius muncul di Suriah lagi, maka seperti yaang dikatakanPresiden Putin, angkatan bersenjata Rusia akan melakukan serangan terhadapteroris yang tidak dapat mereka bayangkan," ucap Borodavkin.

Juru bicara Departemen Luar Negeri ASHeather Nauert sebelumnya mengungkapkan ditariknya pasukan Rusia dari Suriah terlalu terburu-buru. Masihada kantong-kantong ISIS, negara ini masih perlu distabilkan. "Kami berbicara tentang penghapusan puing-puing dan ranjau," katanya.

Nauert menyatakan ditariknya pasukan Rusia tak akan mempengaruhi koalisi global yangdipimpin negaranya untuk tetap melakukan operasi militer di Suriah.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES