Senin 06 Jun 2011 21:20 WIB

Gara-Gara Mengobati Demonstran yang Terluka, Dokter dan Perawat Diseret ke Meja Hijau

Red: cr01
 Beberapa perawat Bahrain yang didakwa melakukan kudeta karena merawat para demonstran yang terluka di Bahrain.
Foto: care2.com
Beberapa perawat Bahrain yang didakwa melakukan kudeta karena merawat para demonstran yang terluka di Bahrain.

REPUBLIKA.CO.ID, MANAMA – Sejumlah dokter dan perawat Bahrain yang merawat para demonstran yang terluka didakwa telah melakukan kudeta dan berupaya menggulingkan monarki di negara kerajaan tersebut. Sebanyak 23 dokter dan 24 perawat secara resmi dituntut dalam sidang tertutup di pengadilan khusus militer, Senin (6/6).

Semua terdakwa telah ditahan sejak Maret lalu, ketika negara memberlakukan darurat militer dalam rangka menekan gelombang demonstrasi yang melanda Bahrain awal tahun ini. Walau undang-undang darurat tersebut telah dicabut pekan lalu, namun pemerintah Bahrain memperingatkan para aktivis oposisi akan "konsekuensi" setiap perlawanan apa pun terhadap pemerintah.

Sehari sebelumnya, Ahad (5/6), polisi Bahrain bentrok dengan pengunjuk rasa Syiah di sela-sela prosesi upacara keagamaan di desa-desa di seluruh negeri. "Polisi menggunakan gas air mata, peluru karet, granat suara dan senapan burung untuk membubarkan demonstrasi yang berlangsung di beberapa desa Syiah di Manama," kata kelompok oposisi Al-Wefaq.

Beberapa penduduk mengatakan, pertemuan yang dilakukan warga murni upacara agama, sedangkan pada pengunjuk rasa lain meneriakkan slogan-slogan anti-Khalifa (Raja Bahrain) dan keluarganya. Mereka juga meneriakkan kata-kata "rakyat ingin rezim turun", sebuah slogan yang menjadi simbol protes serupa di Tunisia dan Mesir, yang berhasil mendongkel penguasa.

Di Desa Sitra, warga mengatakan beberapa orang terluka dan sebuah rumah dibakar. "Kami mengutuk serangan ini. Serangan semacam ini akan membuat situasi lebih buruk lagi," kata Sayyid Hady, aktivis Al-Wefaq.

"Acara ini (upacara keagamaan Syiah) sangat normal di Bahrain, dan kami telah melakukannya selama berabad-abad... pihak berwenang mengatakan tidak akan menyerang acara keagamaan, tapi inilah yang yang mereka lakukan?" tegasnya.

Pejabat pemerintah membantah adanya bentrokan di seluruh wilayah Bahrain. "Benar-benar tidak ada bentrokan. Yang ada hanyalah beberapa penjahat yang mencoba membuat onar, tetapi ini insiden kecil yang segera dapat dihentikan. Situasi stabil dan kembali normal," kata si pejabat.

Para jurnalis tidak dapat memverifikasi laporan-laporan tersebut, karena polisi mendirikan pos-pos pemeriksaan untuk menutup wilayah mayoritas Syiah. Dari luar kawasan tersebut, koresponden kantor berita Reuters mendengar teriakan warga dan mencium bau gas air mata. Warga desa yang mayoritas Syiah, memukul dada mereka dan menyanyikan ayat-ayat kitab suci seraya berbaris untuk memperingati festival salah satu Imam 12 mereka.

sumber : Al-Jazirah
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement