REPUBLIKA.CO.ID, DUBAI – Bahrain membebaskan lebih dari 20 staf medis yang ditahan sehubungan dengan gelombang protes yang melanda negara Teluk itu awal tahun ini. "Walau demikian, mereka masih menghadapi pengadilan militer," kata pengacara dan kerabat mereka, Selasa (28/6).
Mereka yang dibebaskan ini adalah sebagian di antara 48 dokter dan perawat yang ditangkap akibat tindakan keras penguasa Bahrain pada Maret lalu, ketika menghadapi gelombang protes pro-demokrasi yang dipimpin oleh mayoritas Syiah. Ratusan orang telah ditangkap dan puluhan lainnya diseret pengadilan militer.
Langkah ini dilakukan beberapa hari sebelum dialog nasional yang rencananya akan digelar pada Sabtu pekan ini. Banyak pihak memuji langkah pemerintah ini merupakan kesempatan untuk rekonsiliasi. Sebagian besar kelompok oposisi mengatakan belum tahu apakah akan hadir atau tidak dalam dialog tersebut. Mereka meminta pemerintah agar mengurangi penahanan dan peradilan militer sebagai isyarat itikad baik.
Peradilan militer terhadap 48 dokter dan perawat tersebut akan terus berlanjut, meskipun kini 14 orang di antaranya telah dibebaskan. Para pengacara mereka mengaku lega dengan keputusan pembebasan ini, namun tetap merasa skeptis. "Saya pikir ini semua bagian dari gerakan politik, tidak lebih dari itu," kata salah seorang pengacara. "Kami telah meminta pembebasan mereka di pengadilan selama beberapa kali sidang. Walau demikian, ini kabar baik."
Dakwaan terhadap para terdakwa, yang mayoritas Syiah itu, berkisar antara pencurian senjata dan penimbunan obat-obatan untuk merebut kontrol pusat utama medis negara. Dakwaan yang terkesan mengada-ada ini memunculkan kecaman kelompok-kelompok pembela hak asasi manusia (HAM) internasional.
Kerabat para terdakwa yang baru dibebaskan mengatakan, kondisi mereka dalam keadaan lemah, namun bersemangat tinggi. "Dia merasa baikan setelah keluar tahanan. Ada kerumunan besar yang berkumpul untuk menyambutnya di rumah. Mereka (para tahanan) diperlakukan sangat buruk, tetapi kondisi mereka kian membaik dalam beberapa pekan terakhir," tutur kerabat salah seorang dokter.
Sebagian besar dokter tersebut mengatakan mereka disiksa saat ditahan agar memberikan pengakuan. Pemerintah menyangkal adanya pelecehan sistematis dan berjanji akan menuntut para pelaku penyiksaan.