Selasa 15 Aug 2023 13:11 WIB

Kilas Balik Penggulingan Presiden Demokratis Pertama Mesir

Empat bulan setelah digulingkan, Mursi diadili.

Rep: Dwina Agustin/ Red: Nidia Zuraya
Mendiang mantan presiden Mesir, Mohamed Mursi saat di dalam penjara.
Foto: Reuters
Mendiang mantan presiden Mesir, Mohamed Mursi saat di dalam penjara.

REPUBLIKA.CO.ID, KAIRO -- Ketika seorang pemimpin Ikhwanul Muslimin Mesir Mohamed Mursi keluar dari penjara pada hari-hari terakhir kepresidenan Hosni Mubarak pada 2011, dia sedikit membayangkan tahun berikutnya akan menjadi presiden. Setahun kemudian, dia kembali ke balik jeruji besi.

Tiga tahun kemudian, pemimpin Mesir modern pertama yang terpilih secara demokratis digulingkan dan sekali lagi di bawah pemerintahan yang didukung militer. Dia diadili dengan tuduhan berbagai kejahatan termasuk menghasut kekerasan, tuduhan yang akan menjatuhkan hukuman seumur hidup.

Baca Juga

Setelah beberapa dekade penindasan di bawah otokrat Mesir, Ikhwanul Muslimin memenangkan pemilu setelah pemberontakan rakyat menggulingkan Mubarak pada 2011. Momen ini akhirnya mendorong Mursi berkuasa pada 2012.

Kemenangan insinyur yang dilatih Amerika Serikat (AS) dalam pemilihan presiden secara langsung pertama Mesir menandai pemutusan radikal dengan militer. Militer telah memberikan pengaruh pada setiap pemimpin Mesir sejak penggulingan monarki pada 1952.

Tapi euforia yang menyambut berakhirnya era presiden yang memerintah seperti firaun tidak berlangsung lama. Mursi menjanjikan agenda Islamis moderat untuk mengarahkan Mesir ke era demokrasi baru.

Otokrasi akan digantikan oleh pemerintahan transparan yang menghormati hak asasi manusia. Dia pun menjanjikan menghidupkan kembali kekayaan negara Arab yang kuat yang telah lama terpuruk.

Pria berkacamata yang lahir pada 1951 di hari-hari terakhir monarki itu mengatakan kepada warga Mesir, bahwa dia akan mewujudkan kebangkitan Mesir dengan landasan Islam. Sebaliknya, dia justru mengasingkan jutaan orang yang menuduhnya merebut kekuasaan tak terbatas, memaksakan merek Islam konservatif kelompoknya, dan salah mengelola ekonomi, yang semuanya dia bantah.

Tapi dalam pusat kekuasaan, Mursi membuat satu kesalahan besar dalam politik Mesir, dia memusuhi militer. Panglima Angkatan Darat yang diangkat Mursi karena dikenal religius Jenderal Abdel Fattah al-Sisi akhirnya berbalik melawannya.

Mendeteksi ketidakpuasan massa di jalanan, Sisi mendorong Mursi untuk berkompromi dengan lawan politiknya. Dia menolak, terutama menjangkau Islamis lainnya. Padahal para jenderal menilai kondisi saat itu merupakan krisis politik terburuk di Mesir sejak Hosni Mubarak digulingkan pada 2011.

Sebuah gerakan pemuda bernama Tamarud yang berarti "pemberontakan" memulai petisi yang menyerukan agar Mursi mundur. Akhirnya, jutaan orang turun ke jalan menuntut dia pergi.

Sisi yang pernah menjadi kepala intelijen militer Mubarak muncul di televisi pada 3 Juli 2013 untuk mengumumkan berakhirnya masa kepresidenan Mursi yang bermasalah selama satu tahun. Dia menyatakan rencana pemilu.

Tindakan keras keamanan diikuti, meninggalkan Mursi Brotherhood, gerakan politik tertua Mesir, berantakan. Polisi anti huru hara yang didukung oleh penembak jitu tentara menghancurkan kamp-kamp protes Kairo yang menyerukan pemulihannya, menewaskan ratusan orang.

Mursi mengutip ketakutan akan akhirat sebagai salah satu alasan untuk mencari jabatan puncak. "Kami khawatir bahwa Tuhan akan bertanya kepada kami, pada Hari Perhitungan: 'Apa yang Anda lakukan ketika Anda melihat bahwa bangsa itu membutuhkan pengorbanan dan usaha?'" ujarnya.

Empat bulan setelah digulingkan dikutip dari BBC, Mursi diadili bersama 14 tokoh senior dari gerakan Ikhwanul Muslimin, dituduh menghasut para pendukungnya untuk membunuh seorang jurnalis dan dua pengunjuk rasa oposisi. Dia didakwa memerintahkan penyiksaan dan penahanan yang tidak sah terhadap orang lain.

Tuduhan terkait bentrokan antara pengunjuk rasa oposisi dan pendukung Ikhwanul Muslimin di luar istana kepresidenan Ittihadiya di Kairo pada Desember 2012. Pada sidang pertama, Mursi berteriak bahwa adalah korban kudeta militer dan menolak otoritas pengadilan untuk mengadilinya.

Dengan sebagian besar partai-partai Islam dikebiri dan ekonomi masih terjun bebas, Sisi mengokohkan kekuasaannya. Sisi menekan perbedaan pendapat dan mengembalikan Mesir ke sistem pemerintahan yang didukung militer hingga kini.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement