Selasa, 16 Safar 1441 / 15 Oktober 2019

Selasa, 16 Safar 1441 / 15 Oktober 2019

Presiden Korsel Minta Korut Ambil Langkah Tegas

Kamis 10 Jan 2019 17:05 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Teguh Firmansyah

Presiden Korea Selatan Moon Jae-in bersalaman dengan pemimpin tertinggi Korea Utara Kim Jong-un di Pyongyang, Rabu (19/8).

Presiden Korea Selatan Moon Jae-in bersalaman dengan pemimpin tertinggi Korea Utara Kim Jong-un di Pyongyang, Rabu (19/8).

Foto: Pyongyang Press Corps Pool via AP
Kim Jong-un dan Donald Trump akan menggelar pertemuan kedua.

REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL -- Presiden Korea Selatan (Korsel) Moon Jae-in meminta Korea Utara (Korut) mengambil langkah tegas dalam proses denuklirisasi Semananjung Korea. Moon mengatakan Korut harus segera menghentikan program rudal jarak jauh untuk mengimplementasikan kesepakatan dengan Amerika Serikat (AS).

Selama berbulan-bulan proses negosiasi denuklirisasi antara AS dan Korut mengalami kebuntuan. Tidak ada kemajuan yang dilakukan kedua belah pihak demi melanjutkan rencana denuklirisasi tersebut.

Moon juga mengatakan, Korut harus berkompromi dalam pertemuan kedua antara Kim Jong-un dan Presiden AS Donald Trump. Menurut Moon pertemuan tersebut dapat segera dilakukan untuk memecah kebuntuan.

"Pertemuan kedua akan dilakukan di tempat di mana mereka dapat memastikan langkah spesifik yang diambil Korea Utara dan bagaimana langkah tersebut sejalan dengan Amerika Serikat," kata Moon, dalam konferensi pers di kantor kepresidenan Korsel, Kamis (10/1).

Baca juga, Korea Utara Setuju Tutup Fasilitas Nuklir.

Kebuntuan negosiasi ini terjadi karena Korut meminta AS segera mencabut sanksi ekonomi mereka. AS memberlakukan sanksi karena Korut melakukan ujicoba rudal dan senjata nuklir selama beberapa tahun terakhir. Korut juga meminta AS secara resmi mendeklarasikan berakhirnya Perang Korea 1950-1953.

Permintaan tersebut diajukan setelah Korut yakin sudah melakukan langkah-langkah unilateral menuju denuklirisasi. Korut dengan tegas mengatakan, mereka telah melakukan langkah-langkah tersebut dengan membongkar tempat uji coba rudal dan senjata nuklir.

Moon mengatakan Korut harus segera mengambil langkah konkrit. Menurutnya Korut harus mengakhiri pengembangan rudal balistik jarak menengah dan antara benua serta membongkar pabrik senjata dan kompleks nuklir lainnya. Langkah tersebut dilakukan guna mengamankan konsensi AS seperti mencabut sanksi ekonomi terhadap Korut.

Menurut Moon, Korut tidak mungkin meminta AS untuk menarik pasukan atau aset strategis mereka dari Semenanjung Korea. "Pasukan AS di Korea Selatan atau aset strategis AS di Guam dan Jepang tidak hanya berhubungan dengan Korea Utara saja, mereka ada untuk stabilitas dan perdamaian di seluruh Asia Timur," kata Moon.

Kim Jong-un kembali bertekad dapat kembali bertemu dengan Donald Trump untuk kedua kalinya setelah ia mengunjungi Presiden Cina Xi Jinping di Beijing pada pekan ini. Moon mengatakan, kunjungan Kim Jong-un ke Cina menandakan pertemuan Kim dengan Trump akan terjadi dalam waktu dekat.

Pertemuan antara Kim dan Trump yang kedua juga akan mempercepat kemungkinan Kim mengunjungi Seoul. Karena kunjungan yang rencananya dilakukan pada akhir tahun lalu dibatalkan.  "Saya berharap kami dapat mendengar tentang pertemuan tingkat tinggi antara Korea Utara dan Amerika Serikat jauh sebelum kedua pemimpin negara bertemu," kata Moon.

Pada tahun lalu Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo beberapa kali mengunjungi Korut. Tapi pada November lalu pertemuan antara Pompeo dengan pejabat senior Korut Kim Yong chol dibatalkan.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA