Selasa, 22 Syawwal 1440 / 25 Juni 2019

Selasa, 22 Syawwal 1440 / 25 Juni 2019

Iran Tingkatkan Uranium Empat Kali Lipat

Rabu 22 Mei 2019 08:51 WIB

Red: Budi Raharjo

Proyek reaktor nuklir Arak di Iran.

Proyek reaktor nuklir Arak di Iran.

Foto: Reuters/ISNA/Hamid Forootan/Files
Jangan pernah mengancam orang Iran.

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Iran akan meningkatkan timbunan uranium level rendah hingga empat kali lipat. Langkah ini diambil di tengah konflik yang kian memanas antara Iran dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dalam beberapa waktu terakhir ini.

"Tak akan lama lagi kita akan melewati batas 300 kilogram uranium hasil pengayaan level rendah. Jadi, lebih baik pihak lain melakukan hal yang seharusnya dilakukan," kata Behrouz Kamalvandi, juru bicara lembaga tenaga nuklir Iran, Senin (20/5), yang dikutip kantor berita setengah resmi, Farsdan Tasnim.

Pernyataan Kamalvandi mengisyaratkan ke pada pihak lain, yaitu kekuatan besar lain yang terkait dalam kesepakatan nuklir Iran 2015 atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). Sejumlah negara Eropa terikat dengan perjanjian tersebut. Ia mendesak pihak lain tersebut untuk melindungi perekonomian Iran dari sanksi AS.

Kamalvandi mengatakan mesin sentrifugal untuk pengayaan uranium masih termasuk dalam kesepakatan JCPOA. Iran juga tidak bermaksud keluar dari kesepakatan tersebut.

Ali Fathollah-Nejad, pengamat Brookings Institute di Doha, Qatar, menilai keputusan Iran untuk meningkatkan produksi uranium level rendah sebagai upaya bertahap untuk meng kuhkan diri pada tahap tertentu. Tahap yang dimaksudkan ad lah saat 2012 ketika Iran memulai langkah perundingan dengan AS.

"Tujuannya menunjukkan kepada komunitas internasional, khususnya AS, bahwa Iran tidak dalam posisi lemah. Bagaimanapun, ada risikonya karena mungkin saja ini membahayakan dukungan politis dan diplomatis yang hingga kini masih diterima Iran dari Eropa," katanya yang dikutip //Aljazirah.

Balas Trump

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif membalas Trump. Zarif meminta AS memperlakukan Iran dengan hormat, bukan dengan ancaman perang. Hal itu disampaikan sehari setelah Trump memperingatkan Iran.

"Iran telah berdiri tegak selama ribuan tahun, sementara semua lawan lenyap. Terorisme ekonomi dan ancaman bersifat genosida tak akan 'menghabisi Iran'," cicit Zarif di Twitter, Selasa (21/5), yang dikutip Aljazirah.

"Jangan pernah mengancam orang Iran. Cobalah hormati--baru itu akan berhasil," kata Zarif me nambahkan.

Komentar tersebut mengikuti cicitan Trump di Twitter sebelumnya. Trump mengatakan agar Iran jangan coba-coba mengancam AS. Jika tidak, Iran akan "habis". "Kalau Iran ingin bertarung, akan secara resmi Iran akan 'habis'. Jangan sekali-kali pernah mengancam AS lagi,"cicit Trump, Ahad (19/5).

Beberapa jam kemudian, Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan, ia lebih memilih melakukan perundingan dan jalan diplomasi. Namun, semua itu harus dilakukan dalam suasana yang berbeda. "Situasi saat ini tidak cocok untuk berunding dan pilihan kami hanyalah melawan," kata Rouhani dikutip //IRNA, Senin (20/5) malam. (reuters/yeyen rostiyani)

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA