Sunday, 19 Jumadil Akhir 1440 / 24 February 2019

Sunday, 19 Jumadil Akhir 1440 / 24 February 2019

3 Diplomat Venezuela Diberi Waktu 2 Hari Tinggalkan AS

Rabu 26 Feb 2014 11:06 WIB

Red: Bilal Ramadhan

Presiden Venezuela, Nicolas Maduro

Presiden Venezuela, Nicolas Maduro

Foto: whatsnextvenezuela.com

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON-- Amerika Serikat sedang mengusir tiga pejabat kedutaan Venezuela dalam satu langkah saling balas setelah Caracas menendang keluar tiga diplomat Amerika pekan lalu, kata seorang pejabat Departemen Luar Negeri, Selasa. Ketiga diplomat Venezuela telah diberi waktu 48 jam untuk meninggalkan Amerika Serikat, kata pejabat itu, dalam satu langkah yang terjadi saat Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengatakan dia berencana untuk menunjuk duta besar baru untuk Washington.

"Departemen Luar Negeri telah menyatakan bahwa Sekretaris Pertama Ignacio Luis Cajal Avalos, Sekretaris Pertama Victor Manuel Pisani Azpurua, dan Sekretaris Kedua Marcos Jose Garcia Figueredo Kedutaan Besar Venezuela di Washington DC dipersonae non gratakan," kata pejabat itu dalam satu pernyataan yang dikirim ke AFP.

"Mereka telah diizinkan 48 jam untuk meninggalkan Amerika Serikat." Maduro mengumumkan pada 16 Februari bahwa tiga diplomat AS yang diusir, dituduh mereka bertemu dengan para pemimpin protes dengan kedok menawarkan mereka visa.

Tetapi tuduhan mereka telah ditolak sebagai tak berdasar oleh pemerintah AS. Amerika Serikat dan Venezuela tidak memiliki duta besar sejak hubungan mereka memburuk pada tahun 2010. Venezuela telah diguncang oleh tiga pekan protes, didorong oleh kemarahan mahasiswa dan para anggota oposisi atas kondisi hidup yang ditandai oleh maraknya kejahatan jalanan, inflasi dan kesengsaraan ekonomi.

Maduro menegaskan protes adalah kudeta yang diilhami AS untuk menyerang pemerintahan demokratisnya, kurang dari setahun sejak ia terpilih sebagai penerus mendiang ikon sayap kiri Hugo Chavez. Tetapi ia juga mengatakan ingin meningkatkan dialog dengan Washington karena Amerika tidak memahami apa yang terjadi dengan kekerasan di negaranya yang kaya minyak.

Sumber : Antara/ AFP
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA