Selasa 31 Aug 2021 08:12 WIB

AS Resmi Akhiri Misi di Afghanistan

Kehadiran militer AS selama 20 tahun di Afghanistan telah berakhir

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Christiyaningsih
 Dalam gambar yang disediakan oleh Angkatan Laut AS, para pengungsi dari Afghanistan menaiki penerbangan menuju Amerika Serikat dari Naval Air Station Sigonella, Italia, Sabtu, 28 Agustus 2021. Pesawat tujuan AS terbang Minggu ke Philadelphia dan Washington, DC membawa AS warga dan warga Afghanistan dievakuasi dari kekacauan di Afghanistan.
Foto:

Jelang batas waktu evakuasi, pasukan Amerika menghadapi tugas berat untuk membawa pengungsi terakhir ke pesawat. Mereka menghadapi dua serangan bom bunuh diri oleh kelompok ISIS-Khorasan (ISIS-K) yang berafiliasi dengan ISIS di Afghanistan. Serangan bom bunuh diri yang terjadi pada 26 Agustus menewaskan 13 tentara Amerika dan sekitar 169 warga Afghanistan.

Awal perang di Afghanistan adalah janji yang dibuat mantan presiden George W. Bush saat berdiri di atas puing-puing di New York City, tiga hari setelah pesawat yang dibajak menabrak menara kembar World Trade Center. "Orang-orang yang merobohkan gedung-gedung ini akan segera mendengar kita semua," ujar Bush melalui pengeras suara ketika itu.

Kurang dari sebulan kemudian, tepatnya pada 7 Oktober, Bush melancarkan perang di Afghanistan. Pasukan Taliban kewalahan dan Kabul jatuh dalam hitungan pekan. Pemerintahan Afghanistan yang didirikan AS dan dipimpin oleh Hamid Karzai telah mengambil alih negara. Sementara Osama bin Laden serta militan Alqaeda lainnya melarikan diri melintasi perbatasan ke Pakistan.

Rencana awal invasi AS adalah untuk melumpuhkan Osama bin Laden yang telah menggunakan Afghanistan sebagai basis untuk melancarkan serangan ke AS. Kemudian AS memiliki ambisi yang lebih besar adalah untuk melawan “Perang Global Melawan Terorisme” berdasarkan keyakinan bahwa kekuatan militer bisa mengalahkan ekstremisme Islam. 

Afghanistan hanyalah babak pertama pertarungan itu. Bush memilih untuk menjadikan Irak sebagai medan tempur berikutnya pada 2003 dan terperosok dalam konflik yang lebih mematikan. Hal ini menjadikan misi di Afghanistan sebagai prioritas kedua.

Baca juga : Jokowi Minta Masyarakat Segera Vaksinasi Covid-19

Ketika Barack Obama menduduki Gedung Putih pada 2009, dia memutuskan untuk meningkatkan misi di Afghanistan. Obama mendorong jumlah pasukan AS menjadi 100 ribu. Perang terus berlanjut dan Osama bin Laden tewas di Pakistan pada 2011.

Ketika Donald Trump memasuki Gedung Putih pada 2017, dia ingin menarik seluruh pasukan dari Afghanistan. Namun Trump mendapatkan masukan agar tetap mempertahankan pasukan AS di Afghanistan dan meningkatkan serangan terhadap Taliban.  

Dua tahun kemudian yaitu pada 2019, pemerintahan Trump merundingkan kesepakatan dengan Taliban. Pada Februari 2020 kedua belah pihak menandatangani perjanjian yang menyerukan penarikan pasukan AS secara penuh pada Mei 2021. Sebagai gantinya, Taliban membuat sejumlah komitmen. Salah satunya adalah tidak menyerang pasukan AS.

Ketika Biden menjabat sebagai presiden, dia mempertimbangkan saran dari anggota tim keamanan nasional untuk mempertahankan 2.500 tentara di Afghanistan. Namun pada pertengahan April, Biden mengumumkan keputusan untuk menarik seluruh pasukan AS dan sekutunya secara bertahap mulai Mei tahun ini. Biden menetapkan tenggat waktu penarikan hingga 31 Agustus.

Sejak pasukan AS dan sekutu menarik diri dari Afghanistan, Taliban mendorong serangan yang menggulingkan kota-kota utama, termasuk ibu kota provinsi. Sebagian besar pasukan keamanan Afghanistan menyerah kepada Taliban. Pada 15 Agustus, Taliban berhasil menguasai Kabul dan Presiden Ashraf Ghani melarikan diri dari ibu kota.

Amerika Serikat gagal membangun militer Afghanistan karena tidak mampu menahan pemberontak. Amerika Serikat telah menghabiskan 83 miliar dolar AS untuk melatih dan melengkapi persenjataan tentara Afghanistan.

sumber : AP/Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement