Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Tanggapan Trump Soal Kim Jong-Nam Informan CIA

Rabu 12 Jun 2019 10:30 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Yudha Manggala P Putra

Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un (Depan Kiri) dan Presiden AS, Donald Trump (Depan Kanan)

Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un (Depan Kiri) dan Presiden AS, Donald Trump (Depan Kanan)

Foto: VOA
Trump menanggapi kabar yang dimuat Wallstreet Journal soal Kim Jong-nam.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menanggapi kabar yang menyebut Kim Jong-nam sebagai informan CIA. Ia mengaku tidak mengetahuinya. Jika pun iya, Trump mengatakan tak akan mengizinkan CIA untuk merekrut saudara seayah pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-un tersebut.

“Saya tahu bahwa ada hubungan yang sedemikian rupa, namun itu tak akan terjadi di bawah naungan saya dan saya tidak tahu mengenai itu, tak seorang pun tahu,” ujar Trump dalam sebuah pernyataan dilansir CNN, Rabu (12/6).

Trump pada dasarnya tidak membenarkan atau menyangkal laporan yang menyebutkan bahwa Kim Jong-nam pernah bekerja dengan badan intelijen AS tersebut. Ia hanya menekankan bahwa tak mengetahui apapun mengenai hal tersebut

Sebelumnya, beredar laporan dari Wallstreet Journal bahwa Kim Jong-nam pernah menjadi seorang informan untuk CIA. Dalam laporan itu, seseorang yang tidak disebutkan namanya menjelaskan banyak detail mengenai hubungan Kim Jong-nam dengan Badan Intelijen Pusat AS, serta beberapa kali mengadakan pertemuan dengan sejumlah agen.

Klaim mengenai operasi CIA juga pernah dijelaskan dalam sebuah buku mengenai Kim Jong-un oleh reporter The Washington Post, Anna Fifield. Dalam buku berjudul ‘The Great Successor’ itu disebutkan mengenai pertemuan antara Kim Jong-nam dan orang-orang yang terkait untuk menangani masalah kedua negara. Namun, hingga saat ini CIA menolak untuk berkomentar.

Kim Jong-nam selama bertahun-tahun telah menetap di luar Korut dan tak diketahui secara pasti pekerjaan yang ia miliki. Namun, lapoan itu menyebutkan bahwa beberapa mantan pejabat AS mengatakan Kim Jong-nam mungkin terkait dengan lembaga layanan keamanan negara-negara di luar Korut, salah satunya adalah Cina, di mana ia banyak menetap setelah keluar dari Korut.

Kim Jong-nam  telah mengalami kematian secara tragis pada 13 Februari 2017. Saat itu,  ia yang tengah berada di terminal keberangkatan Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA), Malaysia diduga mendapat serangan dengan menggunakan racun saraf VX.

Pria berusia 47 tahun itu tewas sesaat setelah dua perempuan yang dikonfirmasi sebagai Siti Aisyah dari Indonesia dan Doan Thi Huong dari Vietnam menghampiri dirinya yang tengah menunggu penerbangan ke Macau, Cina. Dari rekaman CCTV bandara, keduanya terlihat mengusap sesuatu ke arah wajah korban yang kemudian diketahui mengandung zat berbahaya atau racun yang diklasifikasi sebagai salah satu senjata pemusnah massal oleh PBB itu.

Namun, Aisyah dibebaskan setelah Jaksa Agung Malaysia mengeluarkan perintah untuk menghentikan tuntutan kepadanya pada awal Maret lalu. Sementara, Huong dibebaskan pada Mei.

Menurut laporan, Kim Jong-nam memliki tujuan untuk bertemu dengan rekan CIA saat melakukan perjalanan ke Malaysia dan pada akhirnya harus menemui ajalnya tersebut. Tetapi, tidak menutup kemungkinan adanya tujuan lain yang ia miliki saat melakukan perjalanan itu.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA