Monday, 6 Sya'ban 1441 / 30 March 2020

Monday, 6 Sya'ban 1441 / 30 March 2020

India Sulap Kota-Kota untuk Sambut Kedatangan Trump

Ahad 23 Feb 2020 05:45 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Andri Saubani

Masjid Jama Ahmedabad India

Masjid Jama Ahmedabad India

Contoh di Ahmedabad terdapat tembok 2 meter dengan mural "Namaste Trump"..

REPUBLIKA.CO.ID, AHMEDABAD -- Kedatangan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ke India mendapatkan persiapan yang spesial. Kota dihiasi dengan mural dan pesan-pesan sambutan yang positif dan menarik padahal itu hanya persinggahan yang sangat singkat.

Trump hanya akan melakukan kunjungan kurang dari 36 jam. Namun, kedatangannya ke India pada kunjungan resmi pada 24 Februari ini menjadi yang pertama sehingga membuat pemerintah melakukan usaha lebih untuk menunjukan ketertarikan.

"Demokrasi terbesar di dunia bertemu dengan demokrasi tertua di dunia," sebuah tulisan dengan huruf-huruf cerah di dinding yang baru dibangun di Ahmedabad.

Contoh saja Ahmedabad, kota di negara bagian barat Gujarat, di mana presiden AS akan hadir untuk menghadiri rapat umum dengan Perdana Menteri India, Narendra Modi. Di wilayah itu terdapat tembok 2 meter dengan mural "Namaste Trump".

Bangunan ini didirikan baru sepekan, terlihat indah untuk menyambut Trump, padahal ini hanya penutup wilayah kumuh. Tembok besar tersebut menjadi penghalangan pandangan sepanjang rute yang nantinya akan dilalui oleh Trump. Beberapa pihak pun memberikan cemooh dengan menyatakan kalau akhirnya Trump telah mendapatkan temboknya.

Selain mendirikan tembok, pemerintah India pun memberikan pemberitahuan penggusuran kepada lebih dari 40 penduduk daerah kumuh di sekitar stadion kriket baru pada pekan ini.  Wilayah tersebut merupakan tempat rapat umum akan diadakan.

Dikutip dari The Guardian, aktivis Rohit Prajapati mengatakan, beberapa langkah mempercantik lingkungan yang dilakukan untuk menyambut Trump merugikan lingkungan. Pohon ditebang untuk tujuan keamanan hingga air bersih dilepaskan ke Sungai Sabarmati di Gujurat dan Sungai Yamuna di Agra untuk Trump yang akan mengunjungi Taj Mahal. Cara tersebut memberikan ilusi tentang kondisi sungai yang biasanya kotor, bau, dan beracun karena limbah.

Prajapati mengatakan, pengawasan polisi terhadap aktivis pun telah meningkat dalam beberapa hari terakhir untuk mencoba menghentikan protes selama kunjungan Trump. "Ini hampir seperti kita dalam tahanan rumah," katanya.

Selama beberapa hari terakhir, Prajapati mengaku berada di bawah pengawasan dengan diawasi terus-menerus saat pergi ke mana pun. "Mereka tidak bisa menangkap kita karena itu akan membuat berita jadi mereka malah meneror tetangga kita, keluarga, untuk menciptakan suasana intimidasi," ujarnya.

Warga juga menuduh bahwa peningkatan pembatasan keamanan telah menyebabkan meningkatnya gangguan polisi terhadap komunitas Muslim di Ahmedabad. Hal ini merupakan kepanjangan dari protes yang sebelumnya dilakukan karena pensahan Undang-Undang Kewarganegaraan yang diskriminasi.

Meski penuh dengan ilusi, Trump nyatanya menikmati. Dia telah me-retweet akun Twitter India yang menyatakan akan memberikan sambutan luar biasa dengan mengklaim bahwa 7 juta orang akan keluar untuk menyambutnya di Ahmedabad atau hampir populasi seluruh kota. Padahal perkiraan yang lebih realistis menghitung hanya sekitar 100.000 orang berbaris di jalan-jalan, sementara stadion tempat rapat umum akan diadakan memiliki 120.000 kursi.

"Dalam beberapa hal, presiden Amerika pergi ke India untuk merasa dicintai," ujar Direktur Proyek India di lembaga Brookings Tanvi Madan.

Kerja sama keamanan AS-India telah berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini sebagian besar karena kecurigaan bersama terhadap China dan keinginan untuk menjaga Pasifik tetap terbuka untuk perdagangan bebas. Trump dan Modi kemungkinan akan menandatangani kesepakatan atas helikopter canggih. 

Tetapi, Madan melihat, upaya ekstra India ini berangkat dari tidak ada kesepakatan lebih yang akan diajukan oleh AS.  Kedua negara telah melakukan pukulan atas tarif perdagangan selama setahun terakhir dan Trump telah menjelaskan tidak akan ada kesepakatan perdagangan besar yang ditandatangani antara kedua negara dalam kunjungan ini.

"Saya pikir sebagian karena mereka belum bisa mencapai kesepakatan perdagangan, Perdana Menteri Modi akan melakukan upaya ekstra dalam memberikan sesuatu yang lain kepada Presiden Trump yang merupakan pertunjukan besar," kata Madan.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA